Home > Beasiswa, Monbukagakusho > Monbukagakusho: Berjuang dengan Kertas

Monbukagakusho: Berjuang dengan Kertas

“Abah, Nilai TOEFL ozi udah keluar. Alhamdulillah ozi dapet 613, nilai minimal untuk beasiswa 550”
“Alhamdulillah, syukur klau dapet 613, InsyaAllah kecerdasan ozi makin tambah, sehingga dapat sesuai dengan cita cita”

Itu salah satu pesan singkat terakhir dari abah gw. Abah wafat atas izin Allah akibat serangan jantung dan juga komplikasi diabetesnya. Subhanallah… Allah menempatkan gw di Eijkman di lab yang meneliti diabetes dan sekarang gw mendapatkan calon supervisor yang juga meneliti diabetes. Oiya dari dulu gw selalu menolak untuk menggunakan kata ‘bokap’ dan ‘nyokap’ untuk kata ganti abah dan umi gw. Karena menurut gw, pengorbanan mereka sangat besar, sehingga penggunaan kata ganti tersebut tidak pantas.

Nah sampai dimana kita… Oiya September 2013, gw mendapatkan calon supervisor di Kyoto University. Sekarang kita fast forward hingga April 2014. Sebenernya banyak kejadian antara September 2013 sampai April 2014. Tapi itu gw ceritakan di tempat lain aja ya. Ada cerita gw tentang melamar beasiswa Total, INPEX, dan LPDP juga.

Pendaftaran Monbukagakusho untuk 2015 sudah dibuka, syaratnya apa aja sih?

1. Formulir Pendaftaran (disediakan oleh Kedubes)
2. Field of Study and Study Program (formulir disediakan Kedubes)
3. Fotokopi Ijazah terlegalisir dalam bahasa Inggris
4. Transkrip nilai terlegalisir dalam bahasa Inggris
5. Surat rekomendasi dari Universitas
6. Surat rekomendasi dari tempat kerja (bagi yang sudah bekerja)
7. Abstraksi skripsi dalam bahasa Inggris
8. Sertifikat TOEFL

1. Formulir pendaftaran
Ngga banyak yang bisa gw jelasin disini, tapi saran gw lebih baik tidak mengisi formulir ini dengan tulisan tangan. Lebih tepat dengan diketik. Tapi kan ini file PDF? Iya ngisinya pake PDF editor. Banyak kok tersedia di internet yang freeware. Dan isilah dengan jujur ya. Dan waktu itu gw pernah nanya ke petugas kedutaanya mengenai kesalahan apa yang sering diperbuat applicant ketika seleksi berkas. Agak frontal sih ini pertanyaan kayak nanya kunci jawaban, tapi gapapalah. Anyway mbak petugas kedutaannya bilang,”Kami ngga bisa kasih tau mas, karena itu merupakan bagian dari penilaian.” Jadi teman-teman penting untuk memperhatikan setiap detail dari ketentuan seleksi berkas.

2. Field of Study and Study Program
Ini yang banyak bikin bingung. Gini…

Field of study itu adalah bidang ilmu yang ditekuni sekarang. Buat penjelasan yang clear but concise. Bayangkan teman-teman sedang menjelaskannya kepada orang awam. Terus jangan lupa manfaat dari bidang ilmu tersebut. Kalo saya di bidang molekular biologi yang berhubungan dengan medical sciences. Jadi saya jelaskan dulu tentang molekular biologi itu apa… terus hubungannya dengan medical sciences nya dimana… dan manfaat dari penelitian di bidang ini.

Kemudian ada kolom lagi untuk tema riset ketika studi di Jepang. Nah ini lebih baik dalam bentuk mini-proposal. Gw waktu itu buat dengan struktur Aim – Background – Method – Time Table – Reference. Ngga ada format resmi kok. Dan proposal ini kemudian di lampirkan saja, sedangkan di kolom yang sudah disediakan tulis <research proposal attached>. Gimana cara buat proposal? Pertama baca-baca dulu mengenai riset terkini dibidang yang diminati, kemudian coba temukan masalahnya, buatlah proposalnya. Ada beberapa temen gw yang dapet proposal langsung dari sensei mereka, tapi ada juga, seperti gw, yang mesti buat sendiri. Kalau bisa diskusikanlah proposal ini dengan sang sensei, tapi jangan minta proposal ya, karena ini akan menunjukkan bahwa kita belum mandiri… Jadi buat dulu proposal sendiri kemudian minta pendapat kepada senseinya… Umumnya proposal yang kita buat itu ngga terpakai, kenapa? Karena tentulah sensei punya program besar sendiri jadi kita mesti ngikutin dia.

Nah… Study program itu tempat menjelaskan apa yang mau kita lakukan setibanya di Jepang. Kalo gw tulis gw mau belajar (yaiyalah). Untuk study program, gw breakdown jadi per 6 bulan, sejak kedatangan hingga kelulusan. Rencana gw seputar riset, habituasi budaya lab, kuliah, riset, belajar bahasa jepang, riset, ikut konferensi, dan riset. Dan juga tuliskan setelah selesai studi mau ngapain.

3,4. Fotokopi Ijazah dan Transkrip nilai terlegalisir
Yang pasti mesti lulus dulu kalo mau dapet ini hehehe. Tapi ada beberapa pengalaman grantee yang lain mereka bisa pake surat keterangan akan lulus. Tapi di UI ga bisa kayak gitu sepertinya. Mesti pake bahasa inggris ya jangan lupa. Dan kan si kedubes minta semua dokumen ukuran A4, sedangkan transkrip nilai UI itu pake ukuran peta turis-turis. Gapapa jangan khawatir, masukin aja transkrip aslinya. Tapi untuk kopiannya diskalain jadi A4.

5. Surat rekomendasi dari Universitas
Formulir surat rekomendasi sudah disediakan oleh Kedubes. Isinya pertanyaan pertanyaan. Tapi kalau pemberi rekomendasi mau menyertakan surat tersendiri juga ngga apa apa. Waktu itu gw dapet rekomendasi dari Pak Anom (pembimbing super gw) dan Pak Yasman (Ketua Departemen Biologi UI).

6. Surat rekomendasi dari tempat kerja
Sama formulirnya seperti no 5, tapi ini diberikan oleh bos di tempat kerja, bagi yang sudah bekerja. Nah waktu itu gw dapetnya dari Ibu Safarina G. Malik (pembimbing ultimate gw) dan Dr. Alida Harahap (Kepala Lab Sel Darah Merah, Eijkman). Nah Ibu Safarina atau biasa dipanggil bu Ina yang melampirkan surat tersendiri selain yang di formulir.

“Nih liat ya, gw tulis puji-pujian buat lw, kira-kira ada 11 pujian. Awas! kalo mengecewakan.” kata beliau.
“Hehe… makasih ya bu.”

7. Abstraksi skripsi
Ya abstraksi skripsi… taulah…

8. Sertifikat TOEFL
Nah ini ada beberapa dilema nih, pertama gw dapetnya score sheet bukan serifikat. Temen-temen yang ambil TOEFL setelah gw dapet yang namanya sertifikat. Bingung kan, mana udah hampir 6 bulan yang lalu ambil TOEFL-nya. Tapi ngga apa, gw masukin aja tuh score sheet. Oiya, kalo di LBI UI bisa minta kopian resmi nya sebanyak 2 lembar, jadi score sheet tambahan yang asli. Nah gw nyelipin yang asli itu. Biar maksimal hehe.

Terus LoA dari sensei nya gimana? Nah itu udah gw minta sekitar bulan Maret 2014. Dan diletakkan di paling akhir dari urutan dokumen tersebut.
Oiya LoA gw dikirimkan via DHL, karena waktu itu pake EMS nyampenya 1 bulan berikutnya. Dan ternyata mahal boooo… pake DHL dari Kyoto ke Jakarta sampe 500 ribu. Terima kasih banyak sensei *melambai-lambai* Sedangkan pakai EMS cuma 120 ribu. Cuma pengalaman gw pake EMS nyampe nyampe juga kok 3 hari sama kayak DHL.

21 April 2014, Gw masukkan semua berkas itu ke dalam plastik fotokopian, terus masukkan ke dalam amplop coklat besar. Karena gw berdomisili ke sekitar Jakarta, gw pun mengantar langsung ke Kedubes Jepang. Waktu itu gw bareng 3 orang temen gw, salah satunya Stefani yang berjuang bareng gw untuk masuk Eijkman. Kita masuk ke Kedubes, naik ke lantai 2 ke bagian pendidikan, kemudian memberikan berkas kita kepada petugas kedubes di situ. Ketika kami mengumpulkan berkas, sudah ada setumpuk berkas yang sama. Gw bilang setumpuk bener-bener tumpukan tinggi. Waaawww ini lah dia yang menjadi saingan gw. Setelah mengecek berkas untuk terakhir kali karena parno, hahaha, akhirnya kuserahkanlah berkas tersebut.

Kami pun pulang dengan perasaan pasrah ya hehe, karena bingung mau pulangnya gimana, saat itu masih siang belum banyak bis yang ke arah Depok dan sekitarnya. Akhirnya kami pun naik bis Jakarta City Tour yang gratisan. Seleksi berkas diumumkan sekitar 1,5 bulan setelahnya. Gw berdoa agar dikuatkan atas hasil apapun yang gw terima, jika berhasil maka gw harus kuat agar tidak congkak, sedangkan jika gagal gw harus kuat untuk bangkit lagi.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: