Home > Genetika > Respon Adaptif Plasenta dan Fetal Programming

Respon Adaptif Plasenta dan Fetal Programming

Plasenta memiliki beberapa fungsi terhadap janin yang diselubunginya yaitu membentuk sistem imun, mentransportasi nutrien dan zat buangan, dan memprogram fetus dengan mengatur sitem hormonal dan substrat. Plasenta, dengan fungsi demikian, memiliki peran penting dalam fetal programming, seperti mengubah pola hormon dan substrat yang penting terhadap perkembangan janin. Perkembangan janin secara langsung memengaruhi potensi penyakit yang akan diderita janin saat dewasa.

Tahapan penting yang terjadi pada perkembangan plasenta ialah ketika plasenta mengembangkan efisiensinya menjadi 40 kali lipat dibanding semula. Peningkatan efisiensi tersebut didasari pada beberapa aktivitas plasenta, yaitu peningkatan volume vili hingga sepuluh kali lipat, peningkatan luas permukaan trophoblast dari 0.08 m2 menjadi 12.5 m2, penipisan trophoblast dari 18.9 hingga 4.1 mikrometer, dan pemendekan jarak maternal-fetal diffusion dari 55.9 ke 4.8 mikrometer. Gangguan pada tahapan tersebut dan waktu terjadinya gangguan dapat memengaruhi fungsi plasenta. Gangguan selama angiogenesis memiliki efek yang berbeda dengan gangguan selama pertumbuhan dan diferensiasi trophoblast.

Beberapa kecaman yang dapat memengaruhi perkembangan plasenta ialah kecaman oksidatif dan kecaman nitratif. Kecaman okdatif terjadi pada minggu 10-12 akibat terbentuknnya pembuluh darah,sehingga trophoblast terpicu untuk melakukan diferensiasi .Kecaman oksidatif tidak terlepas dari kinerja mitokondria yang melakukan proses oksidasi untuk memenuhi kebutuhan energi sel. Proses oksidasi terebut menghasilkan radikal bebas, sehingga kekuatan kecaman oksidatif dapat diketahui dengan mengukur  kandungan superoksida dan nitrooksida. Nitrooksida dapat membentuk pro-oksidant peroksinitrit yang dapat menambahkan gugus nitrat pada asam amino, sehingga enzim dapat kehilangan fungsi katalisisnya.

Perkembangan plasenta tidak dapat dilepaskan dari faktor genetik yang berasal dari paternal dan maternal. Uniknya, kedua sumber gen tersebut bekerja secara antagonis pada pertumbuhan plasenta. Gen paternal memicu pertumbuhan plasenta, salah satu contoh gen paternal ialah Ata3 yang mengode transporter asam amino. Gen maternal berfungsi dalam menghambat pertumbuhan plasenta, salah satu contoh Impt/Slc22all yang mengode transporter ion organik. Dengan kedua sumber gen tersebut, pertumbuhan plasenta dapat tetap seimbang.

Glucocorticoid adalah hormon steroid regulator glukosa yang disintesis di korteks adrenal. Cortisol merupakan contoh dari glucocorticoid. Dengan mengatur kandungan glukosa, glucocorticoid juga mengatur perkembangan dan pertumbuhan janin. Paparan yang berlebihan dari hormone glucocorticoid memnyebabkan hipertensi, hiperglikaemia, dan HPAA. Gen pengode regulator hormone, dalam mekanisme ini berupa enzim, itu ialah 11betaHSD.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: