Home > Uncategorized > Potensi penghematan bahan bakar fosil dengan penggunaan kendaraan umum di jakarta

Potensi penghematan bahan bakar fosil dengan penggunaan kendaraan umum di jakarta

Tidak ada kota tanpa sistem transportasi. Transportasi ibarat darah yang membuat suatu kota tetap hidup dengan jalan sebagai pembuluhnya. Transportasi merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hal tersebut membuat suatu kota harus memiliki sistem transportasi yang baik, tak terkecuali Jakarta. Jakarta, sebagai ibukota Indonesia, menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi. Berbagai kegiatan dari jual beli hingga birokrasi dilakukan di Jakarta. Penduduk Jakarta pun datang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, sehingga tidak mengherankan jika Jakarta menjadi kota yang padat dan sibuk.  Segala aktivitas di Jakarta tidak terpisah dari transportasi. Berbagai jenis kendaraan ada di Jakarta yang umumnya didominasi oleh mobil dan sepeda motor. Kedua jenis kendaraan itu sudah menjadi kebutuhan bagi warga Jakarta.  Hal tersebut ternyata membawa masalah tersendiri untuk lingkungan, yaitu konsumsi bahan bakar yang sangat tinggi.

Seperti yang telah diketahui, bahan bakar kendaraan bermotor paling dominan ialah minyak fosil. Indonesia memiliki cadangan minyak fosil pada tahun 2011 sebanyak 4,03 miliar barrel, namun menurut data BP Migas jumlah tersebut hanya mencukupi hingga 13 tahun mendatang. Hal tersebut dikarenakan kegiatan eksplorasi yang tidak intensif. Sebaik apa pun kegiatan eksplorasi dilakukan, menurut data WWF, cadangan minyak fosil dunia akan habis dalam kurun waktu 22 tahun. Setelah 22 tahun itu, dunia akan mengalami kelumpuhan total dan krisis energi. Beberapa Negara telah mengembangkan metode untuk memproduksi energi dari sumber alternatif, namun tingkat keberhasilan masih tergolong rendah. Satu hal pasti yang harus dilakukan sekarang ialah menerapkan langkah penghematan minyak fosil. Pemerintah diharuskan untuk menyusun inovasi dalam bidang transportasi.

Tidak ada kota yang lebih tepat bagi pemerintah Indonesia untuk menerapkan kebijakan transportasi baru selain Jakara. Hal tersebut didasari dengan data lalu lintas Polda Metro Jaya, selama tahun 2011 terdapat lebih dari 12 juta kendaraan bermotor yang memadati Jakarta, terdiri atas 8,2 juta kendaraan roda dua dan 3,1 juta kendaraan roda empat. Jumlah kendaraan yang sangat besar itu mengonsumsi  41,42 milyar liter bahan bakar minyak sepanjang tahun 2011, menurut Darwin Zahedy, Menteri Energi dan Sumber Daya Alam Mineral. Tidak hanya sampai situ, angka kendaraan di Jakarta akan terus tumbuh dari waktu ke waktu, bahkan data statistik menunjukkan terdapat 2000 kendaraan baru yang masuk ke Jakarta per hari. Alasan dibalik angka yang tumbuh pesat itu ditenggarai oleh beberapa faktor seperti gaya hidup, kemudahan melakukan kredit kendaraan, dan angka kemacetan yang sangat tinggi.

Data Direktorat Perkeretaapian Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa penggunaan kereta listrik jauh lebih hemat bahan bakar fosil dibanding kendaraan roda dua. Kereta listrik dengan daya angkut 1500 orang membutuhkan 3 liter bahan bakar per kilometer atau 0.002 liter per orang per kilometer. Penggunaan  moda transportasi bus  membutuhkan hanya 1.6 liter bahan bakar minyak per kilometer. Jika dibagi dengan jumlah penumpang berkisar 83 orang maka konsumsi bahan bakar satu bus ialah 0.04 liter per kilometer per orang. Kendaraan roda dua, dengan asumsi 2 orang per kendaraan roda dua, membutuhkan 0.08 liter bahan bakar per kilometer atau 0.04 per kilometer per orang. Mobil sedan perkotaan memiliki rerata kapasitas mesin sebesar 1500 cc dengan konsumsi bahan bakar 0.1 liter per kilometer. Diasumsikan satu mobil yang beroperasi di Jakarta mengangkut 3 orang, sehingga konsumsi bahan bakar minyak mobil pribadi sebesar 0.03 liter per kilometer per orang. Jika dilakukan kalkulasi sederhana, 1500 orang (daya angkut kereta listrik) menggunakan kendaraan roda dua membutuhkan 60 liter bahan bakar per kilometer, bandingkan dengan penggunaan kereta listrik yang hanya 3 liter per kilometer.

Jenis Kendaraan Jumlah Penumpang Konsumsi BBM
Kereta Listrik 1500 0.002
Bus 83 0.02
Mobil Sedan 3 0.03
Sepeda Motor 2 0.04

 

Langkah inovasi yang harus diambil pemerintah Jakarta bukanlah melarang penggunaan mobil sedan dan sepeda motor, tetapi melakukan intensifikasi terhadap sistem transportasi umum. Jakarta memiliki potensi yang baik jika dilihat dari jaringan bus yang telah terbentuk. Kebijakan untuk embuat moda transportasi baru, seperti monorail, dianggap kurang efektif karena pembangunan yang tidak konsisten dan biaya yang cukup besar. Ketinggian tanah Jakarta terhadap permukaan laut tidak memungkinkan untuk membangun subway.

Salah satu langkah yang telah menghasilkan buah yang cukup baik ialah penggunaan transjakarta, bus umum dengan bahan bakar gas. Jaringan transjakarta sudah cukup baik. Namun, keluhan yang sering terjadi ialah jumlah armada yang masih sedikit. Penambahan koridor transjakarta dianggap penting untuk menambah jangkauan wilayah. Revitalisasi kereta listrik termasuk langkah strategis bagi pemerintah untuk mengurangi jumlah kendaraan roda dua. Penambahan jumlah armada serta peremajaan gerbong dianggap sangat penting untuk menarik minat masyarakat. Jika masyarakat puas dengan sistem transportasi yang disediakan maka tren penggunaan kendaraan pribadi akan menurun.Dengan demikian, tidak hanya cadangan bahan bakar minyak fosil dapat dihemat, tetapi juga polusi serta kemacetan dapat dikurangi.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: