Home > Biologi Tumbuhan > Hubungan Fisiologi Tumbuhan dengan Tanah

Hubungan Fisiologi Tumbuhan dengan Tanah

Untuk mengetahui secara jelas fisiologis tumbuhan, dibutuhkan pengetahuan mengenai karakter dari substrat tumbuhan itu sendiri yaitu tanah. Batuan induk mengalami pelapukan dalam jangka waktu lama akan menjadi tanah, selain itu tanah juga dapat berasal dari letusan gunung api. Tanah merupakan medium yang kompleks, terdiri dari fase solid yang disusun dari bahan organic (organisme) dan inorganic (mineral), fase cair yang merupakan campuran dengan air, dan fase gas.

Perbedaan tingkat fase padat, cair, dan gas menjadikan tanah memiliki tiga tipe utama; pasir, liat, dan gembur. Ketiga tipe tanah memiliki struktur dan sifat berbeda, yang tentunya perlu diketahui untuk menyesuaikan tumbuhan yang akan ditanam. Sifat terpenting pada tanah berkaitan dengan air, sifat tanah tersebut ialah porositas. Porositas merujuk pada saluran-saluran dalam tanah yang saling berhubungan, saluran-saluran tersebut terbentuk karena bentuk partikel tanah yang tidak teratur. Karena keberadaan pori-pori, tanah mampu menyimpan air. Namun hanya pori-pori dengan ukuran 10-60 µm yang dapat menahan air dalam waktu lama.

Ketika tanah diairi, dengan irigasi atau hujan, air pada tanah akan mengalir pindah secara perlahan. Titik ketika tidak ada air yang mengalir pindah dan hanya tertahan di pori-pori disebut kapasitas tanah. Secara alami, tanah membutuhkan 2-3 hari untuk mencapai titik kapasitas tanah. Tipe tanah pasir, seperti yang dapat ditebak, memiliki pori-pori berdiameter besar. Tanah pasir, dikarenakan sifat sedemikian, tidak dapat menahan air namun memiliki kandungan udara yang tinggi. Sebaliknya, tanah liat dapat menahan air dalam jumlah besar meskipun miskin udara. Tanah gembur merupakan keseimbangan antara tanah pasir dan tanah liat, sehingga cocok pada mayoritas tumbuhan.

Gaya yang bekerja pada proses drainasi ditemukan juga pada uap air di ruang mesofil pada daun. Perbedaan gradien konsentrasi air antara sistem tubuh tumbuhan dengan lingkungan membuat, dalam hal ini di akar, terimbibisi dan terdifusi ke dalam akar. Tentunya proses tersebut didukung oleh sifat akar yaitu permeable terhadap air. Wilayah penyerapan air yang paling tinggi berkisar 0.5 cm dari ujung akar. Bagian meristematik akar itu sendiri hanya menyerap sedikit air, karena protoplasnya sangat padat dan belum ada jaringan pembuluh yang terdiferensiasi dengan baik. Area penyerapan air dapat mencapai 10 cm dari ujung akar. Jika panjang area tersebut di bandingkan dengan panjang akar, tentu jumlah tersebut sangat kecil. Untuk menyiasati fakta tersebut, tumbuhan didisain dengan kemampuan menumbuhkan rambut akar. Modifikasi sel epidermis dengan pembengkakan sitoplasma akan membentuk rambut akar. Sekiranya terdapat 2.500 rambut/cm2 luas akar pada mayoritas tumbuahan. Terdapat penelitian yang menjelaskan luas bidang penyerapan tumbuhan Rye, tumbuhan tersebut ditumbuhkan dalam kotak sebesar 30 x 30 x 56 cm. Jika dihitung luas bidang penyerapan akar dapat mencapai angka 639 m2.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: