Archive

Posts Tagged ‘sel punca’

Sel Punca

August 17, 2011 Leave a comment

Sel punca atau sel batang atau stem cell mungkin belum terlalu populer di Indonesia. Penelitian mengenai sel tersebut belum terlalu terpublikasi, namun penemuan mengenai sel punca sudah cukup lama dikembangkan di luar negeri. Sel punca atau stem cell ialah sel yang memiliki keampuan untuk berdiferensiasi dan berspesialisasi menjadi sel lain. Sel punca juga dapat membelah tanpa kehilangan kemampuannya berdiferensiasi dan berspesialisasi. Karakter-karakter kunci ini menjadikan sel punca sebagai metode pengobatan dengan prospek yang bagus. Dapat diandaikan jika sorang pasien luka bakar parah dapat sembuh lebih cepat jika diimplementasikan sel punca ini.

Kemampuan sel punca digolongkan menjadi empat tipe; totipotensi, pluripotensi, multipotensi,dan unipotensi. Sel punca yang berasal dari inner cell mass embrio memiliki kemampuan totipotensi atau dapat beruabah menjadi berbagai macam sel, termasuk berubah menjadi sel punca pluripotensi. Sel punca pluripotensi merupakan sel-sel yang menyusun tiga lapisan embrional. Sel punca multipotensi hanya dapat berubah menjadi sel-sel yang tidak jauh berbeda. Dan lebih spesifik lagi, sel punca unipotensi hanya dapat berubah menjadi satu jenis sel saja.

Pada manusia dewasa, sel punca sulit ditemukan karena mayoritas dari sel-sel tersebut telah terdiferensiasi menjadi sel matang. Namun beberapa lokasi dalam tubuh yang dapat diekstraksi sel punca-nya ialah tali pusar, sumsum tulang, mata, dan hati. Dalam kasus sel punca pada tali pusar, yang bermanfaat untuk pengobatan penyakit darah, harus diekstraksi sesaat setelah kelahiran, karena bagian yang dimanfaatkan ialah darah pada tali pusar tersebut.

Prinsip metode pemanfaatan sel punca ialah mengekstraksi dan mengawetkan sel punca tersebut. Sel punca dapat bertahan hingga 15 tahun dalam masa pengawetan. Ketika sel punca akan digunakan, sel punca tersebut akan diinduksi dengan faktor pertumbuhan tertentu hingga berubah menjadi sel yang diinginkan. Faktor pertumbuhan bersifat spesifik. Proses pengawetan sel punca terbilang panjang karena sel-sel tersebut harus melewati serangkaian proses untuk menentukan status, apakah sel-sel itu benar sel punca. Penggunaan marker, zat kimia penanda sel, untuk mengetahui sifat sel sering digunakan, namun marker-marker tersebut bersifat spesifik terhadap sel punca yang digunakan. Penelitian lebih lanjut mengenai marker dibutuhkan untuk mempermudah proses pengawetan.

Beberapa hal yang membentur perkembangan penerapan sel punca di banyak negara ialah kode etik dalam mendapatkan sel punca. Banyak orang berpendapat bahwa suatu embrio harus dimatikan terlebih dahulu untuk mendapatkan sel puncanya, namun opini tersebut sebenarnya hanya disebabkan karena penjelasan mengenai sel punca tersebut amat minim. Menurut Ferry Sandra, Phd, salah satu pendiri Stem Cell and Cancer Institute, sel punca dapat diekstraksi tanpa mematikan embrio tersebut, karena embrio memiliki 8 sel yang tergolong dalam inner cell mass. Kultur sel punca dapat dilakukan hanya dengan satu sel saja, yang kemudian apabila sel telah berhasil di kultur, sel dapat dikembalikan ke embrio tersebut. Stem cell mungkin merupakan titik terang dalam pengobatan banyak penyakit dan kerusakan jaringan seperti diabetes mellitus, alzheimer, leukemia, dan parkinson.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.